Sejarah Songkok to BONE (Recca/Pamiring)

Posted: Jumat, 11 Mei 2012 by KESETIAAN AKAN SELALU ADA in Label:
1

 
Sebagian orang menyebutnya songkok to Bone. Ada juga yang menyebut songkok pamiring dan sebagian lagi menyebut songkok recca’. Bentuknya bulat dengan bagian atas rata dan berlubang kecil di bagian tengah atas. Umumnya berwarna hitam, coklat, atau krem—di bagian atas—dipadu warna keemasan di bagian tengah ke bawah.
Sebutan songkok bone yang banyak diucapkan orang-orang luar Bone, Sulawesi Selatan, agaknya terkait dengan sejarah pembuat songkok itu, yaitu orang-orang Bone, khususnya di Awangpone. Sebutan songkok pamiring lebih menunjuk ujung atau sisi bagian bawah songkok yang berhias warna keemasan. Biasanya jika bagian bawah berhias benang emas, sebutannya songkok pamiring, tetapi bila menggunakan emas sungguhan, disebut songkok pamiring ulaweng (songkok bersisi emas).
Di Bone sendiri orang-orang lebih menyebutnya songkok recca’. Sebutan recca’ lebih menunjuk pada proses pembuatannya, yaitu pelepah lontar dipukul-pukul (recca’) hingga menjadi serat.
Tak jelas sejak kapan dan siapa yang pertama memopulerkannya di luar Sulawesi Selatan (Sulsel). Yang pasti, songkok tersebut sudah menyebar ke mana-mana dan dikenakan banyak orang di Nusantara, mulai dari masyarakat biasa, selebritas, tokoh politik, pejabat negara, bahkan orang asing. Tak terbilang lagi segala lapisan orang yang mengenakannya di sejumlah acara di banyak tempat, entah acara formal maupun tak resmi.
Ada yang memadankannya dengan setelan jas, ada pula yang menggunakannya sebagai pelengkap kemeja atau pakaian lainnya. Singkatnya, songkok, yang pada mulanya semata-mata hanya digunakan untuk pelengkap busana adat semata dan hanya dipakai pada acara-acara adat resmi, kini sudah menjadi pelengkap beragam jenis busana di banyak tempat dan berbagai acara. Di Sulsel lazimnya songkok itu dipadupadankan dengan pakaian adat yang dikenakan pria berupa sarung sutra dan jas berkancing depan dengan kerah ala pakaian tradisional China.
Tamu-tamu asing atau wisatawan yang berkunjung ke Sulsel umumnya gemar mengenakan songkok recca’ dan membawanya pulang untuk oleh- oleh.
Sebenarnya kalau melihat bahan dasarnya, tidak ada yang istimewa dari songkok tersebut. Bahan-bahan maupun cara pembuatannya biasa-biasa saja. Sebut saja pelepah pohon lontar yang dipukul-pukul dan diurai hingga menjadi serat yang halus. Untuk membuatnya berwarna hitam atau coklat, digunakan pewarna alami dari beragam buah dan biji-bijian, bahkan lumpur sawah. Bahan lainnya adalah benang berwarna keemasan dan beberapa helai bulu rambut kepala kuda yang digunakan sebagai pembatas antara ujung bagian atas tengah songkok dan bagian lainnya.
Yang membuatnya istimewa adalah bila songkok ini berada di kepala orang-orang atau tokoh penting, terkenal, dan semacamnya. Menjadi lebih istimewa lagi jika benang keemasan yang menghias pinggiran songkok itu diganti dengan emas sungguhan. Terlebih jika susunan emas yang sebelumnya dilebur dan dibuat menyerupai benang itu cukup tinggi dan hampir menutupi seluruh sisi songkok.
Tak jelas sejak kapan emas digunakan sebagai salah satu bagian penting dari songkok recca’. Yang jelas, saat ini penggunaan emas hampir mendominasi pembuatan songkok recca’, terutama yang digunakan kalangan pejabat, orang-orang penting, dan kalangan berpunya. Hampir serupa kasta, emas bahkan menjadi parameter derajat dan kekayaan pemakai songkok ini.
"Umumnya yang saya buatkan songkok dengan pinggiran emas adalah songkok milik petinggi atau orang penting seperti gubernur, turunan bangsawan, bupati, orang-orang kaya, dan seperti itu. Saya juga banyak membuat songkok yang akan dihadiahkan kepada pejabat-pejabat negara atau menteri, bahkan tamu asing yang berkunjung ke Sulsel," kata Rahman, pembuat songkok recca’ di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, beberapa waktu lalu.
Di Bone, Rahman adalah satu dari tiga ahli pembuat songkok yang menggunakan emas sebagai bahan penghias songkok. Dua lainnya adalah Aming dan Nabisa. Di Bone, terutama di Kecamatan Awangpone, banyak yang pandai membuat songkok recca’. Namun, yang membuat songkok dari emas tak banyak jumlahnya. Karena hanya sedikit, ketiga perajin itu hampir tahu siapa-siapa saja orang penting yang pernah mereka buatkan songkok.
"Dari pejabat-pejabat, menteri, Wakil Presiden era kepemimpinan Megawati, ketua-ketua partai, anggota DPR, sampai sejumlah pengusaha kaya, baik yang di Jakarta maupun daerah lain. Tidak terhitung lagi pejabat-pejabat lokal," kata Rahman.
Dari pengalamannya membuat songkok, Rahman pernah membuat songkok yang emasnya mulai dari 15 gram hingga yang totalnya 100 gram. Songkok yang emasnya mencapai 100 gram dijual dengan harga Rp 20 juta. Selain kadar emas, harga songkok itu juga dipengaruhi proses pembuatannya yang agak rumit dan memakan waktu 15 hari hingga hampir satu bulan. Pembuatan itu terhitung sejak batang lontar dimemarkan.
Songkok tanpa emas harganya beragam, Rp 30.000-Rp 70.000. Harga songkok non-emas dipengaruhi oleh kehalusan serat lontar dan kerapian songkok.
Di Bone, pembuatan songkok sejak awal hingga penyelesaian akhir dilakukan di tempat yang berbeda-beda kendati semuanya masih satu kecamatan, di Awangpone. Kecuali penyelesaian akhir—yang meliputi pembentukan songkok sesuai dengan ukuran kepala dan penambahan benang emas atau emas sungguhan yang dilakukan perajin di Desa Paccing—proses awal dilakukan di sejumlah desa lain.
Proses awal itu antara lain memukul-mukul pelepah lontar menjadi serat halus, pewarnaan, sampai menganyam serat lontar menjadi songkok. Selanjutnya, meneruskan anyaman dan membuat bentuk hingga memberi tambahan benang emas maupun emas.
Tentang penggunaan emas pada songkok recca’, A Mappasissi Petta Awangpone, salah satu keturunan bangsawan Bone yang saat ini menjadi Pemangku Adat Bone, mengatakan, pada awalnya penggunaan emas itu tak dikenal. Bahkan model yang sekarang ini dikenal banyak orang sudah merupakan pergeseran dari model awal yang dikenakan raja-raja Bone.
"Kalau dulu, modelnya bulat, tak terlalu tinggi, dan bagian atasnya agak runcing, persis seperti model topi orang Tionghoa. Pinggirannya pun bukan emas sungguhan, tapi kain berwarna emas. Entah sejak kapan songkok ini berubah bentuk dan menggunakan emas. Tapi memang sejak dimulainya penggunaan emas pada songkok, raja, para pembesar, atau bangsawan umumnya menggunakan songkok yang dibuat dari emas," katanya.
Mappasissi menambahkan, dulu songkok berhias emas sungguhan hanya digunakan oleh raja, pembesar, dan keluarga bangsawan. Rakyat biasa enggan menggunakannya sekalipun punya uang untuk membuat songkok berbalut emas. Kalaupun ada orang kaya yang bukan keluarga raja atau bangsawan yang menggunakan songkok berbalut emas, kadar emasnya tak boleh melebihi kadar emas songkok yang dikenakan raja. Dengan kata lain, susunan anyaman emas di bagian sekeliling songkok tak boleh lebih tinggi daripada yang dimiliki raja. "Tapi sekarang karena zamannya sudah beda, siapa pun, asal suka dan mau, boleh membuat dan mengenakan songkok dari emas," kata Mappasissi.
Agaknya, karena alasan itu pula songkok recca’ kini bukan lagi menjadi milik orang Sulsel, tetapi menjadi milik siapa pun yang suka mengenakannya. Bahkan songkok recca’ tak lagi dibuat di Bone saja, tetapi juga sudah dibuat perajin di sejumlah kabupaten lain di Sulsel. Hal ini pula yang mungkin membuat songkok recca’ sudah melanglang buana dari Bone, keliling Indonesia, bahkan dunia.

Kini tak perlu berdarah bangsawan untuk bisa memakai salah satu warisan budaya masyarakat Bugis Bone ini. Dulu, songkok To Bone dipakai oleh raja-raja Bone beserta keluarganya. Penutup kepala ini juga menjadi bagian dari setelan pakaian adat pria Bugis Bone, Sulawesi Selatan. Khusus para raja dan bangsawan, digunakan hiasan dari benang tenun emas. Makin tebal lapisan emasnya, makin tinggi derajat si pemakai.

Kini, untuk memakai songkok Bone serupa, tak perlu menjadi raja atau bangsawan lebih dulu. Siapa pun boleh, asalkan bersedia membayar lebih mahal untuk satu songkok berlapis emas murni itu. Apalagi di tengah harga emas yang sedang melonjak seperti sekarang. "Semakin tebal hasil tenunan benang emasnya, harga songkok semakin mahal," kata Rahmatang, seorang perajin songkok di Jalan Urip Sumoharjo Kilometer 4 Poros Bone-Wajo. Di kawasan yang terletak sekitar 180 kilometer dari Makassar itu terdapat empat toko songkok To Bone.

Di toko Rahmatang H. Nawir misalnya. Etalasenya memajang songkok dengan aneka motif, mulai dari benang emas, hiasan emas murni, sampai benang biasa. Warna songkok pun beragam, dari hitam, cokelat, sampai krem. "Songkok berlapis emas biasanya dipesan pejabat, "ujar Rahmatang.
Pria berusia 30 tahun ini menyebut beberapa nama pejabat yang pernah memesan songkok padanya. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah dibuatkan songkok berhias tenunan emas murni tiga ringgit (gram). Orang Bone biasa menyebut ringgit sebagai pengganti satuan gram. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Amin Syam juga pernah memesan songkok dengan tenunan emas dua ringgit. Begitu juga Bupati Gowa, Bupati Bone, dan Bupati Sinjai. Berapa harga songkok itu?

Mari kita berhitung. Setiap satu ringgit emas, yang ketebalannya mencapai 1,5 sentimeter, dibanderol Rahmatang dengan harga Rp 15 juta. Jadi harga songkok dengan dua ringgit emas setara dengan ongkos naik haji sekarang ini.

Selain menyediakan songkok To Bone, toko Rahmatang juga menjual songkok haji, atau songkok miniatur untuk suvenir, dengan harga Rp 7.000 per buah. Saat Tempo berkunjung ke toko itu dua pekan lalu, seorang pembeli, Andi Anti, sedang memesan 500 buah miniatur songkok. "Ini untuk suvenir perkawinan adik saya," kata wanita berusia 31 tahun itu.

Selain itu, Anti memesan satu lusin songkok berharga Rp 250 ribu per buah. Menurut Anti, songkok To Bone adalah simbol adat. "Memakainya berarti turut melestarikan budaya Bugis Bone," ujarnya.

Pembeli lainnya, Andi Rahman Petta Wowu Opu Sappewali, mengambil dua buah songkok seharga Rp 150 ribu per buah. "Ini akan saya pakai pada acara hari jadi Kota Luwu," ujar Rahman.

Di sebelah toko Rahmatang, ada toko Andi Irma yang menjual songkok dengan harga dari Rp 25 ribu, Rp 50 ribu, hingga Rp 150 ribu. Khusus songkok berhiaskan benang emas dibanderol dengan harga Rp 500 ribu per buah.

Kawasan Poros Bone-Wajo juga dikenal sebagai kawasan perajin songkok. Ada sekitar 100 perajin songkok di sana. Para perajin bermitra dengan pedagang untuk mendapat pesanan. Rahmatang, misalnya, bermitra dengan 50 perajin.

Dari kawasan ini, songkok Bone dipasarkan ke Somba Opu, pusat belanja emas, suvenir, dan oleh-oleh di Makassar, Sengkang, bahkan sampai ke luar Makassar, seperti Jakarta, Kalimantan, Bali, dan Kendari. Anda siap untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi bangsawan Bone.

Para perajin songkok di Poros Bone-Wajo kebanyakan para gadis dan ibu-ibu. Mereka membuat songkok di waktu senggang atau sore hari. Sore dua pekan lalu, saat Tempo berkunjung ke sana, tampak Kasmawati, 26 tahun, Suriani, 36 tahun, dan beberapa gadis sedang menganyam songkok di balai-balai samping rumah Kasmawati.

Selain menganyam, mereka mengolah bahan baku. Serat pelepah pohon lontara, yang menjadi bahan baku utama songkok itu, mereka tumbuk. Lalu seratnya dipisahkan. Serat kasar berwarna hitam dipakai untuk bahan dasar anyaman, sedangkan serat halus berwarna krem dijadikan benang.
Sebelumnya, songkok dibuat satu warna, yakni hitam. Setelah 1990, warna songkok ada yang krem dan cokelat. Warna cokelat diambil dari pewarna alami, yakni campuran kulit batang jambu mete yang menghasilkan warna merah kecokelatan dan kayu seppang yang menghasilkan warna merah muda. Sedangkan songkok warna krem memakai serat halus yang berwarna krem.

Dalam sebulan, para perajin ini mampu memproduksi songkok hingga 500 buah. Puncak pemesanan songkok, menurut Kasmawati, biasa terjadi saat menyambut hari jadi Kabupaten Bone, Gowa, dan Sinjai, atau menjelang peringatan 17 Agustus.

Para perajin berupaya melestarikan kerajinan songkok dengan melakukan penanam kembali pohon lontara. "Sebab, kerajinan ini memang bergantung pada pohon lontara," ujar Kasmawati. (irmawati)

Contoh makalah perkembangan pancasila di Indonesia

Posted: Selasa, 08 Mei 2012 by KESETIAAN AKAN SELALU ADA in
0


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Pancasila di Indonesia”  ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen Mata Kuliah Pancasila Siti Darwana Hamda. SH.MH.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan Pancasila, serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan perkembangan pancasila di Indonesia, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Pancasila atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai perkembangan pancasila khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.




Penulis


DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ………………………………………………………………. i
Kata Pengantar ………………………………………………………………. ii
Daftar Isi …………………………………………………………………….. iii
Bab I Pendahuluan ………………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………….. 1
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………. 2
1.4 Manfaat …………………………………………………………………... 2
1.5 Ruang Lingkup ………………………………………………………….... 2
Bab II Metode Penulisan ……………………………………………………... 3
2.1 Objek Penulisan ………………………………………………………….. 3
2.2 Dasar Pemilihan Objek …………………………………………………… 3
2.3 Metode Pengumpulan Data ………………………………………………. 3
Bab III Pembahasan …………………………………………………………... 4
Bab IV Penutup ………………………………………………………………. 13
Kesimpulan …………………………………………………………………… 13
Saran ………………………………………………………………………….. 14
Daftar Pustaka ………………………………………………………………... 15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengembangkan pancasila dalam kehidupan masyarakat adalah program utama yang harus dijalannkan. Tetapi Globalisasi merupakan aspek kehidupan yang ada di masyarakat yang dapat mempengaruhi perkembangan pancasila tersebut, hal itu telah terbukti dengan banyaknya masyarakat khususnya kalangan remaja yang telah terbius atas segala dunia globalisasi. Itu merupakan suatu kendala yang dialami dalam mengembangkan pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya pengembangan dalam kalangan dunia remaja, hal itu sangat tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dalam pancasila. kita ketahui bahwa generasi muda sekaranglah yang bisa mengembangkan pancasila untuk mencapai kehidupan selanjutkan, tapi semua itu mungkin sangat sulit untuk terwujud, karena kalangan remaja sekarang kurang berpartisipasi dalam pancasila. Kurangnya partisipasi menyebabkan pengembangan pancasila dalam dunia kalangan remaja sangat lambat, kurangnya pengembangan pancasila tersebut berpengaruh terhadap pola pikir dan pola perilaku kalangan remaja

1.2 Rmusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat mengemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana perkembangan pancasila di Indonesia?
  2. Bagaimana tahap-tahap perkembangan Pancasila di Indonesia?



1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
  1. Untuk memenuhi salah tugas Mata Kuliah Pancasila.
  2. Untuk menambah pengetahuan mengenai Perkembangan Pancasila Indonesia.
  1. Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan Pancasila.

1.4 Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah:
  1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Perkembangan Pancasila di Indonesia.
  2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang tahap-tahap perkembangan Pancasila.

1.5. Ruang Lingkup

Makalah ini membahas tentang cara pengembangan Pancasila, pengaruh perkembangan Pancasila, tahap-tahap perkembangan Pancasila serta tujuan pengembangan dari Pancasila itu.
Berdasarkan beberapa masalah yang teridentifikasi tersebut, makalah ini difokuskan pada Perkembangan Pancasila di Indonesia.


BAB II
METODE PENULISAN

2.1 Objek Penulisan
Objek penulisan makalah ini adalah mengenai Perkembangan Pancasila di Indonesia. Dalam makalah ini dibahas mengenai cara perkembangan Pancasila di Indonesia, pengaruh perkembangan Pancasila, tahap-tahap perkembangan Pancasila, tujuan pengembanagan Pancasila dan bagaimana pengembangan Pancasila di Indonesia.


2.2 Dasar Pemilihan Objek
Makalah ini membahas mengenai perkembangan Pancasila di Negara Indonesia. Perkembangan Pancasila diharapkan dapat mengubah sikap masyarakat agar dapat meyakini Pancasila sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Maka dari itu masyarakat perlu mengetahui bahwa perkembangan Pancasila itu penting dalam kehidupan.


2.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah kajian pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu dengan tema wawasan kebangsaan. Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet yang membahas mengenai Perkembangan Pancasila di Indonesi
2.4 Metode Analisis
Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yanag ada, menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari alternatif pemecahan masalah.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Pancasila
Arti Pancasila berasal dari bahasa sansekerta India (kasta brahmana). sedangkan menurut Muh Yamin, dalam bahasa sansekerta , memiliki dua macam arti secara leksikal yaitu : panca : yang artinya lima, syila : vokal i pendek, yang artinya batu sendi, alas, atau dasar. Syiila vokal i panjang artinya peraturan tingkah laku yang baik atau penting.
Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa indonesia terutama bahasa jawa diartikan “susila” yang memiliki hubungan dengan moralitas. oleh karena itu secara etimologi kata “pancasila” yang dimaksud adalah istilah “pancasyila” dengan vokal i yang memiliki makna leksikal “berbatu sendi lima” atau secara harfiah “dasar yang memiliki lima unsur”. adapun istilah “pancasyiila” dengan huruf Dewanagari i bermakna “lima aturan tingkah laku yang penting”
Perkataan pancasila mula-mula terdapat dalam perpustakaan Budha India. ajaran budha bersumber pada kitab suci Tri Pitaka dan Vinaya pitaka, yang kesemuanya itu merupakan ajaran moral untuk mencapai surga. ajaran pancasila menurut Budha adalah merupakan lima aturan (larangan) atau five moral principles, yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh para penganutnya. adapun isi lengkap larangan itu adalah :
Panatipada veramani sikhapadam samadiyani, artinya “jangan mencabut nyawa makhlum hidup” atau dilarang membunuh.
Dinna dana veramani shikapadam samadiyani, artinya “jangan mengambil barang yang tidak diberikan.” maksudnya dilarang mencuri.
Kameshu micchacara veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berbuat zina.
Musawada veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berkata bohong atau dilarang berdusta
.Sura merayu masjja pamada tikana veramani, artinya janganlah minum-minuman yang memabukkan

3.2 Nilai-Nilai Pancasila
Nilai nilai pancasila secara intrinsik bersifat filosofis, dan di dalam kehidupan masyarakat indonesia nilai pancasila secara praktis merupakan filsafat hidup (pandangan hidup). nilai dan fungsi filsafat pancasila telah ada jauh sebelum indonesia merdeka. hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293). pada waktu itu hindu dan budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. Empu prapanca menulis “negara kertagama” (1365). dalam kitab tersebut telah terdapat istilah “pancasila”.
Empu tantular yang mengarang buku “sutasoma” yang di dalamnya memuat seloka yang berbunyi : “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda namun satu jua adanya, sebab ada tidak agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. bahkan salah satu kerajaan yang menjadi kekuasaannya yaitu pasai jutru telah memeluk agama islam.
Sumpah palapa yang diucapkan Mahapatih Gadjah mada dalam sidang ratu dan para menteri di pasebahan keprabuan Majapahit pada tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut : “Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jikalau seluruh nusantara bertakhluk di bawah kekuasaan negara, jikalau gurun, seram, tanjungpura, Haru, pahang, Dempo, Bali, Sunda, palembang, tumasik telah dikalahkan”. (Yamin ; 1960:60)
Dalam kehidupan bangsa indonesia diakui bahwa nilai pancasila adalah pandangan hidup (filsafat hidup) yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. nilai pancasila dianggap sebagai nilai dasar dan puncak (sari-sari) budaya bangsa, karenanya nilai ini diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.
sebagai ajaran filsafat, pancasila mencerminkan nilai dan pandangan mendasar dan hakiki rakyat indonesia dalam hubungannya dengan sumber kesemestaan, yakni Tuhan Yang Maha Esa sebagai asas fundamental dalam kesemestaan yang kemudian juga dijadikan fundamental kenegaraan yaitu negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. demikian pula asas kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia dan seterusnya dimana nilai nilai tersebut secara bulat dan utuh mencerminkan asa kekeluargaan, cinta sesama dan cinta keadilan.
berdasarkan asa-asa fundamental ini, maka disarikan pokok-pokok ajaran filsafat pancasila menurut Lapasila IKIP Malang (yang saat ini menjadi Universitas Malang) sebagai berikut :
1. Tuhan Yang Maha Esa.
2. Budinurani Manusia.
3. Kebenaran.
4. Kebenaran dan keadilan
5. Kebenaran dan keadilan bagi bangsa Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya pancasila tetap tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang susunan sila-silanya sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3.3 Tahap-Tahap Perkembangan Pancasila
Menurut Asvi Warman Adam, mulai dari penggagasan ide tentang Pancasila hingga Pancasila itu terbentuk dibagi dalam empat tahap yang melewati beberapa pemerintahan di Indonesia. Beliau menyebutnya sebagai Empat Gelombang Pancasila, gelombang pertama adalah saat penciptaan, gelombang kedua adalah masa perdebatan, gelombang ketiga dilakukan rekayasa dan gelombang keempat adalah penemuan kembali.
Pada gelombang pertama ini Soekarno dan beserta anggota Tim Sembilan merumuskan tentang dasar negara yangb kemudian akan dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam pembukaan tersebut dicantumkan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Namun Hatta kemudian menerima pesan bahwa masyarakat Indonesia Timur keberatan akan “tujuh kata” tersebut dan tidak bersedia bergabung dalam Indonesia jika itu tetap dicantumkan. Setelah dirundingkan kembali, “tujuh kata” tersebut dihilangkan dan disempurnakan dalam “Ketuhanan yang Maha Esa” yang dapat meng-cover agama-agama yang ada di belahan timur, tengah maupun barat. UUD 1945 kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945 tanpa mempermasalahkan lagi syariat islam.
Pada gelombang kedua,  tahun 1955 dibentuk badan KOnstituante yang akan merancang kembali PAncasila. Dinamakan masa perdebatan karena hal utama yang diperdebatkan adalah apakah Pancasila sebagai dasar negara atau ideologoi lain. Partai islam serta beberapa tokoh islam seperti Hamka mengajukan islam sebagai dasar negara sementara partai nasionalis tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Oleh Soekarno, akhirnya badan Konstituante dibubarkan pada tanggal 1 Juli 1959 dan Indonesia kembali berdasar kepada Pancasila.
Pada Masa Rekayasa, nilai-nilai Pancasila direduksi pada masa pemerintaha Soeharto. Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai asas tunggal untuk setiap organisasi masyarakat dan partai politik. TAP MPR tentang Penataran Pancasila
yang dikeluarkam pada tahun 1978 dikampanyekan secara nasional keseluruh elemen pemerintahan dan pendidikan. Pancasila hanya dijadikan sebagai objek hafalan dan hasil dari penataran yang dilakukan selama 10 tahun itu tidak memiliki hasil yang jelas.
Pada Masa Penemuan Kembali, BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dibubarkan, sedangkan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dihapuskan. Pancasila tetap diajarkan dalam sekolah dan perguruan tinggi. Hari lahir Pancasila yang pada masa pemerintahan Soeharto dilarang, mulai diperingati kembali. Ancaman ekonomi dan perpecahan antar-elemen masyarakat kembali merujuk pada sesuatu yang dapat merekatkan persatuan dan kesatuan yakni Pancasila.
Untuk “menemukan kembali” nilai-nilai Pancasila yang semakin hari semakin tereduksi oleh globalisasi dan liberalisasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Talcott Parsons dalam bukunya “Social System” ada empat paradigma fungsi yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk tetap eksis dan lestari.
Pertama, pattern maintenance, kemampuan memelihara sistem nilai budaya yang dianut karena budaya adalah endapan perilaku manusia. Budaya masyarakat itu akan berubah karena terjadi transformasi nilai dari masyarakat terdahulu ke masyarakat kemudian, tetapi dengan tetap memelihara nilai-nilai yang dianggapnya luhur, karena tanpa hal itu akan terbentuk masyarakat baru yang lain.
Kedua, kemampuan masyarakat beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. Sejarah membuktikan banyak peradaban masyarakat yang telah hilang karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan dunia. Masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan serta memanfaatkan peluang yang timbul akan unggul.
Ketiga, adanya fungsi integrasi dari unsur-unsur masyarakat yang beragam secara terus-menerus sehingga terbentuk kekuatan sentripetal yang kian menyatukan masyarakat itu.
Keempat, masyarakat perlu memiliki goal attainment atau tujuan bersama yang dari masa ke masa bertransformasi karena terus diperbaiki oleh dinamika masyarakatnya dan oleh para pemimpinnya.  ( Husodo, Siswono Yudo. 2005. “Pancasila dan Keberlanjutan NKRI”. Kompas, 2 Juli.)
Pendapat Parsons di atas dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengembalikan nilai-nilai Pancasila yang semakin memudar. Keempat peradigma fungsi Parsons harus diimplementasikan masyarakat Indonesia agar dapat tetap hidup dan berkembang yang terkristalisasi dalam Pancasila sebagai ideology. Kemampuan masyarakat yang tetap mampu bertahan di tengah arus liberalisasi dan globalisasi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya adalah salah satu caranya. Kebudayaan kini menjadi salah satu yang paling rentan terhadap ancaman tersebut. Nilai-nilai luhur tetap terus dijaga dapat mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
Hampir sama dengan Asvi Warman Adam, Kenneth E. Boulding membagi tahap perkembangan ideology menjadi tiga tahapan: Emergence (kemunculan), Decline (kemunduran)  dan Resurgence of Ideologies (kebangkitan kembali suatu ideology). Dalam hal ini, kita harus berusaha untuk membangkitkan kembali ideology Pancasila. Pancasila perlu disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia, karena yang perlu kita masing-masing sadari bahwa dalam sejarah kita mungkin telah melewati Fase Decline namun pada kenyataannya kita masih berada dalam fase tersebut. Keberhasilan Pancasila sebagai suatu ideologi akan diukur dari terwujudnya kemajuan yang pesat, kesejahteraan yang tinggi, dan persatuan yang mantap dari seluruh rakyat Indonesia.
Untuk itu, peran kaum terpelajarlah yang dapat mengartikulasikan keinginan rakyat yang seharusnya untuk maju dan menjawab tantangan yang dihadapi bangsa sekarang ini dengan bersatu padu. Konsep dan praktik kehidupan yang Pancasilais terutama harus diwujudkan dalam keseharian para pemimpin, para penguasa, para pengusaha, dan kaum terpelajar Indonesia untuk menjadi pelajaran masyarakat luas.
3.4 Perkembangan Pancasila di Indonesia
Pancasila I (menurut sidang BPUPKI):
  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.
  5. Ke- Tuhanan.
Pancasila II (menurut Piagam Jakarta)
  1. Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila III ( menurut sidang PPKI) dan dipakai sampai sekarang.
  1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  6. Dan terbentuklah dasar negara Indonesia Pancasila dengan isi yang kita ketahui sekarang. Tetapi inti dari sila pancasila merupakan gabungan semua ideologi yang ada di dunia ini.
  • Tuhan, yaitu sebagai kausa prima (Agama).
  • Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial(Internasionalisme)
  • Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian tersendiri(Nasionalisme)
  • Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja dsn gotong royong (Demokrasi).
  • Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya (Sosialisme).
Dari uraian itu maka Pancasila merupakan sebuah ideologi yang lengkap dan sempurna bagi sebuah terbentuknya negara.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Arti Pancasila berasal dari bahasa sansekerta India (kasta brahmana). sedangkan menurut Muh Yamin, dalam bahasa sansekerta , memiliki dua macam arti secara leksikal yaitu : panca : yang artinya lima, syila : vokal i pendek, yang artinya batu sendi, alas, atau dasar. Syiila vokal i panjang artinya peraturan tingkah laku yang baik atau penting.
Perkembangan pancasila di Indonesia
Pancasila I (menurut sidang BPUPKI):
  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.
  5. Ke- Tuhanan.
Pancasila II (menurut Piagam Jakarta)
  1. Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila III ( menurut sidang PPKI) dan dipakai sampai sekarang.
  1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dan terbentuklah dasar negara Indonesia Pancasila dengan isi yang kita ketahui sekarang. Tetapi inti dari sila pancasila merupakan gabungan semua ideologi yang ada di dunia ini.
  • Tuhan, yaitu sebagai kausa prima (Agama).
  • Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial(Internasionalisme)
  • Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian tersendiri(Nasionalisme)
  • Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja dsn gotong royong (Demokrasi).
  • Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya (Sosialisme).
4.2 Saran
  1. Sebaiknya masyarakat menyadari perkembangan pancasila dalam kehidupan nya, karena pancasila memiliki manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.
  2. Sebaiknya lebih sering diadakan seminar tentang pancasila agar masyarakat mengetahui arti penting perkembangan pancasila di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
sofyanmohammed.wordpress.com/.../tahap-perkembangan-pancasila/
pancasila.univpancasila.ac.id/?p=343



Perangkat Keras dan Fungsinya

Posted: by KESETIAAN AKAN SELALU ADA in
0


Secara fisik, Komputer terdiri dari beberapa komponen yang merupakan suatu sistem. Sistem adalah komponen-komponen yang saling bekerja sama membentuk suatu kesatuan. Apabila salah satu komponen tidak berfungsi, akan mengakibatkan tidak berfungsinya suatu komputer dengan baik. Komponen komputer ini termasuk dalam kategori elemen perangkat keras (hardware). komponen dasar komputer yang terdiri dari input, process, output dan storage. Input device terdiri dari keyboard dan mouse, Process device adalah microprocessor (ALU, Internal Communication, Registers dan control section), Output device terdiri dari monitor dan printer, Storage external memory terdiri dari harddisk, Floppy drive, CD ROM, Magnetic tape. Storage internal memory terdiri dari RAM dan ROM. Sedangkan komponen Periferal Device merupakan komponen tambahan atau sebagai komponen yang belum ada atau tidak ada sebelumnya. Komponen Periferal ini contohnya : TV Tuner Card, Modem, Capture Card.
1. Keyboard

Keyboard merupakan unit input yang paling penting dalam suatu pengolahan data dengan komputer. Keyboard dapat berfungsi memasukkan huruf, angka, karakter khusus serta sebagai media bagi user (pengguna) untuk melakukan perintah-perintah lainnya yang diperlukan, seperti menyimpan file dan membuka file. Penciptaan keyboard komputer berasal dari model mesin ketik yang diciptakan dan dipatentkan oleh Christopher Latham pada tahun 1868, Dan pada tahun 1887 diproduksi dan dipasarkan oleh perusahan Remington. Keyboard yang digunakanan sekarang ini adalah jenis QWERTY, pada tahun 1973, keyboard ini diresmikan sebagai keyboard standar ISO (International Standar Organization). Jumlah tombol pada keyboard ini berjumlah 104 tuts. Keyboard sekarang yang kita kenal memiliki beberapa jenis port, yaitu port serial, ps2, usb dan wireless.

2. Power Supply
Berupa kotak tegangan listirik yang menempel pada bagian belakang setiap casing dan memiliki kabel power yang akan disambungkan ke komponen hardware yang ada di dalam casing.
Fungsi :
  • Mengubah tegangan AC menjadi DC dan menyuplai tegangan tersebut ke komponen yang membutuhkan arus dan tegangan pada motherboard.

3. Mouse
Mouse adalah salah unit masukan (input device). Fungsi alat ini adalah untuk perpindahan pointer atau kursor secara cepat. Selain itu, dapat sebagai perintah praktis dan cepat dibanding dengan keyboard. Mouse mulai digunakan secara maksimal sejak sistem operasi telah berbasiskan GUI (Graphical User Interface). sinyal-sinyal listrik sebagai input device mouse ini dihasilkan oleh bola kecil di dalam mouse, sesuai dengan pergeseran atau pergerakannya. Sebagian besar mouse terdiri dari tiga tombol, umumnya hanya dua tombol yang digunakan yaitu tombol kiri dan tombol kanan. Saat ini mouse dilengkapi pula dengan tombol penggulung (scroll), dimana letak tombol ini terletak ditengah. Istilah penekanan tombol kiri disebut dengan klik (Click) dimana penekanan ini akan berfungsi bila mouse berada pada objek yang ditunjuk, tetapi bila tidak berada pada objek yang ditunjuk penekanan ini akan diabaikan. Selain itu terdapat pula istilah lainnya yang disebut dengan menggeser (drag) yaitu menekan tombol kiri mouse tanpa melepaskannya dengan sambil digeser. Drag ini akan mengakibatkan objek akan berpindah atau tersalin ke objek lain dan kemungkinan lainnya. Penekanan tombol kiri mouse dua kali secara cepat dan teratur disebut dengan klik ganda (double click) sedangkan menekan tombol kanan mouse satu kali disebut dengan klik kanan (right click)Mouse terdiri dari beberapa port yaitu mouse serial, mouse ps/2, usb dan wireless
.

4.CPU (Central Processing Unit)
Adalah komponen berupa chip atau IC berbentuk persegi empat yang merupakan otak dan pengendali proses kinerja computer, dengan dibantu komponen lainnya. Satuan kecepatan prosesor adalah MHz (Mega Hertz) atau GHz (1000 Mega Hertz). Semakin besar nilainya, semakin cepat proses eksekusi pada komputer.
Fungsi
  • Tempat mengatur semua instruksi program pada komputer. 

  • Pengelola semua aktivitas kinerja di dalam komputer.

5. Harddisk
Adalah komponen yang berbentuk persegi empat yang berisi platter atau piringan yang mirip dengan piringan hitam, head, papan elektronik, motor penggerak, dan komponen lainnya, yang dilapisi atau dibungkus oleh casing yang kuat.
Fungsi :
  • Salah satu alat booting computer.
  • Media penyimpanan operation system (OS) yang digunakan pada computer
  • Media penyimpanan semua data dalam kapasitas yang besar pada computer.